Sentuhan Tuhan lewat peristiwa sehari-hari
Jumpa lagi hehehe.. sepertinya mengumpulkan niat untuk blogging tuh susahnya pake ampun... Ada aja prioritas-prioritas lain yang tak bisa ditinggalkan. Setelah niat terkumpul dan terlebih setelah melting saat suami beliin laptop dengan alasan "supaya kamu bisa nulis blog lagi" #duh super banget si husband nih hehehe,, untuk itu setelah juga bergalau-galau ria pengen nulis apa, terciptalah judul di atas. Yes, sentuhan Tuhan lewat peristiwa sehari-hari.
Akhir-akhir ini saya semakin peka dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup saya pribadi dan juga suami. Kami mengikuti komsel dua minggu sekali dengan beberapa pasangan muda lainnya. Saya sungguh terberkati dengan ikut komsel ini, terlebih sekarang kami sedang membahas buku "Berakar dalam Kristus".
Seperti ini bukunya
| Sumber: Google |
Saat ini kami sudah memasuki bab ke-5 (sudah setengah jalan). So excited, really! Satu topik yang sangat berkesan adalah cara kita mengenal Kristus dengan peristiwa sehari-hari. Di sini akan saya uraikan peristiwa yang simpel tapi ngena banget buat saya dan suami.
Biasanya kami komsel tiap Rabu malam minggu kedua dan keempat. Di suatu Rabu kami membahas tentang mengenal Kristus lewat peristiwa sehari-hari. Esoknya, saya berangkat ke kantor seperti biasa, naik bis Transjakarta. Saya sudah hampir sampai di barrier tempat tapping kartu, sudah mengantri juga posisinya. Eh lalu ada seorang ibu, tiba-tiba serobot antrian tepat di depan saya. Seketika itu saya ingat pelajaran semalam, ketika kita ingin meneladani Kristus, kita harus berusaha untuk berperilaku dan berpikir seperti Kristus. Saya langsung membayangkan kalau Yesus diserobot pas di antrian apa yang akan Ia lakukan. Satu kata yang langsung terpikir dan seperti ada yang membisiki "Sabar saja..." toh kamu belum terlambat ke kantornya. OK! Saya ikuti dan saya bersabar. Lalu si ibu meletakkan kartunya dan eng ing eng saldonya tidak cukup saudara-saudara, mau tahu berapa saldonya? Rp 3400! Wew, kurang seratus rupiah untuk bisa masuk. Oh My God! speachless dan seakan tak percaya, apakah ini buah kesabaran? Hehehe... Langsung si ibu melipir untuk isi saldonya. Sungguh, saya langsung memikirkan peristiwa ini sepanjang perjalanan menuju ke kantor. Antara tak percaya, lucu juga tapi ini betul terjadi. Simpel tapi ngena banget loh buat saya hehehe... Jadi saya semakin merasakan kehadiran Tuhan, tak jauh, sungguh tak jauh. Ia sangat dekat dan ingin kita mendekat pada-Nya.
Lanjut ke peristiwa yang dialami si suami. Di Paskah kali ini, suami didapuk menjadi seksi dekorasi, ini kali pertama untuknya. Dibilang dia bakal dibantu oleh yang sering pegang dekor, but ya, bisa saya bilang, he is the one man show. Mungkin ya karena dia lebih suka kerja sendiri, lebih puas untuk menuangkan ide dari otaknya. Singkat cerita, untuk drama yang akan ditampilkan di ibadah, diperlukan satu meja, lebih tepatnya sambungan di atas meja, supaya mejanya terlihat seperti meja cafe/ meja bartender. Si suami rencana mau buat sendiri, beli kayu sendiri. Kami ingat di dekat kantornya ada sebuah toko bangunan. Suatu hari kami ke sana untuk membeli kayu. Sayangnya kayu yang kami cari tidak ada, tapi di toko tersebut, si suami bertemu dengan bapak penjual soto langganannya. Si bapak kasih info kalau di daerah Poncol, Senen banyak tuh yang jual kayu. Berbekal info itu, kami langsung meluncur ke daerah Poncol. Setelah berputar-putar dibantu mba Google, sampailah kami di sebuah jalan. Di mana di sepanjang jalan, banyak penjual kayu, wah praise the Lord. Setelah tanya-tanya ke beberapa toko, kami tiba di toko terakhir yang sanggup memenuhi permintaan si suami. Fix, langsung bikin deh tuh sambungan. Oh wait, tak semudah itu ternyata. You know what, si suami lupa berapa panjang meja yang ada di gereja. Hahaha! Si suami mencoba mengingat-ingat dan akhirnya mengira-ngira, "ok pak, dibuat sepanjang 180 cm saja." kata si suami. Sungguh, angka 180 cm itu hanya angka perkiraan, suami pikir, yah kalo kurang panjang, nanti coba disiasati saja dengan benda lain. Setelah menunggu beberapa lama, si sambungan itu jadi dan kami langsung ke gereja untuk menaruh sambungan meja itu. Tolong dibayangkan saat itu kami naik motor ya saudara-saudara, kebayang kan saya duduk di belakang sambil megangin itu kayu, hahaha... Sungguh pengalaman tak terlupakan deh. Sesampainya di gereja, si suami langsung cari itu meja dan ngukur berapa panjang meja itu sebetulnya. Setelah ngukur, dia bengong.
Dia bilang "Mih, 180 cm panjangnya!"
"Hah? Kok bisa pas?" tanyaku tak percaya
"Bener mih, pas panjangnya sama sambungan yang kita buat!"
Well, Puji Tuhan, Dia sungguh bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Peristiwa yang sederahana bukan? Tapi sungguh itu membekas di hati kami. Ternyata begini yah, kalau kita ikhlas melayani Tuhan. Ia sungguh bantu dengan cara-Nya yang ajaib.
Dari dua peristiwa tadi, hati kami diubahkan, sungguh saya merasa dan ingin semakin dekat pada-Nya. Dia tak jauh, sungguh! Dia dekat, ada di hati kita :)
Tidak ada komentar: