Other dream: School Counselor
Menjalani profesi saat ini... Bukan terpaksa, bukan juga pasrah. Tapi kebutuhan (#samasaja). Semakin jenuh, semakin berpikir, inikah profesi yang saya dambakan? Tapi semakin ke sini, semakin saya berpikir, sebetulnya passion saya tuh di bidang apa sih? Ketambahan makin sering nonton drama korea, banyak inspirasi untuk tak lelah menggapai cita. Sampai saya sempat merenung, bisakah saya menjalani profesi yang berbeda? Profesi yang sesuai dengan passion saya?
Ok, saya mencoba merunut lagi, menilik sejarah pendidikan, kenapa saya akhirnya memilih kuliah D3 Sekretaris? Satu alasan yang terpikirkan adalah kondisi keluarga yang tidak memungkinkan saya untuk memilih sembarang jurusan, karena tentu biaya kuliah tidaklah sedikit, apalagi kala itu, kakak sayapun sedang kuliah. Saat kelas 3 SMA, banyak yang bertanya saya akan kuliah apa, dokterkah? Fiuhhh... ngebayangin biayanya saja sudah cukup untuk mengenyahkan impian menjadi dokter, dan untungnya tidak kesampaian. Ngeri booo,, ngeliat rekaman operasi, beuhh ngilu rasanya. Waktu itu, saya ingat-ingat lagi, kenapa ya saya tidak bisa bermimpi yang tinggi-tinggi? Sepertinya satu-satunya alasan adalah, saya tidak mau memberatkan orang tua. Terus kenapa ga kepikiran cari beasiswa? Karena saya takut mencoba dan kecewa #coward. Yah,, pencarian jati diri dimulai...
Jadi saat kelas 3 SMA, teman-teman yang lain sibuk belajar untuk masuk PTN, sibuk pendaftaran beasiswa, sibuk daftar perguruan tinggi swasta, saya sendiri sibuk berpikir, untuk cepat-cepat cari kerja, supaya bisa membantu ekonomi keluarga.
Namun apa daya, setelah mama dikasih wejangan oleh tante, saya tetap disekolahkan, dan saya disuruh pilih sekolah yang murah, cepat bisa kerja. Merantaulah saya ke Jakarta dan mendaftar akademi D3 Sekretaris. Saya jalani kuliah, irit-irit uang pemberian orang tua, ternyata enjoy juga kuliah, meski teman kuliah perempuan semua... #gersang.
Saya bersyukur, selepas kuliah, memang betul bisa langsung cepat kerja :) Puji Tuhan!
Setelah hampir 6 tahun bekerja di posisi yang sama, sekarang-sekarang ini semakin berpikir apa yang bisa saya lakukan selain earning money for living. Saya sempat kuliah ekstensi D3 ke S1 Komunikasi, honestly I enjoyed it, but that's not my passion. Hahaha... Pikiran dangkal saya, waktu masih menggebu-gebu pengen S1, tetep aja yang dipikirin, yang kuliahnya cepet, ga makan biaya banyak. Ok, that's it. Jadilah saya kuliah S1 Komunikasi dalam 2 tahun.
Back to my dream, berkaca dari pengalaman kuliah dan masih pencarian jati diri. Saya bercita-cita untuk bisa membantu anak-anak terutama SMA kelas 3, untuk betul-betul dapat memilih jurusan di mana passion mereka berada. Banyak tantangan pasti, but trust me, I think it's worth it. Saya ingin membantu mereka, untuk mendalami, apa sebetulnya bidang yang mereka sukai, dan bisa dijadikan mata pencaharian tentunya. Sehingga mereka pada akhirnya bisa bekerja dengan hati yang senang dan tak berbeban berat, karena mereka bekerja sesuai dengan passion mereka. Karena itulah, saya sempat berpikiran ingin menjadi konselor pendidikan. Mendampingi anak-anak untuk menggapai cita-cita mereka. Supaya 4 tahun yang mereka jalani untuk kuliah, tak menjadi percuma... Supaya mereka bisa langsung bekerja dan survive di dunia orang dewasa ini. Saya yakin apapun yang dikerjakan dengan passion, pasti terasa menyenangkan. Meski ada hambatan, adrenalin terpacu untuk mencari solusinya.
Saatnya saya merenung lagi, bagaimana saya bisa mewujudkan mimpi ini? Haruskah kuliah lagi psikologi? Adakah kelas karyawan untuk jurusan psikologi? Ayo wujudkan mimpi!!!
"It is never too late to be what you might have been."
George Eliot
Tidak ada komentar: