Pelajaran hidup (yang sangat mahal dan berharga) PART 1

Papi Viky's collection

Di bulan Juni ini ada kejadian tidak mengenakkan dan membuat kami sekeluarga kelelahan. Lelah fisik, lelah pikiran, juga mengacaukan keadaan finasial kami. Intinya di suatu pagi, suami saya menabrak seorang ibu berusia 59 tahun di saat saya dan suami dalam perjalanan menuju tempat kerja. Apa hikmah yang kami dapat dari kejadian ini?

Saya ingat jelas, saya merasa diri saya begitu diberkati Tuhan. Berkaca dari pengalaman teman atau sahabat, yang sedang mengalami ujian. Dari mulai papanya meninggal, ada juga teman yang bayinya meninggal, ada yang kemalingan. Intinya ujian yang menghabiskan tenaga, materi juga menguji keimanan kami. Mendengar cerita-cerita ini, saya bersyukur kepada Tuhan, keluarga kami belum pernah mengalami cobaan yang kami anggap BERAT. Sampai saya pernah bertanya pada Tuhan, bagaimana ya kalau saya mendapat ujian seperti itu. JDER. Kejadian betulan deh. Ga ada angin, ga ada hujan, ga ada firasat apapun, kami mengalami kejadian seperti ini.

Ketika saya terbangun di jalanan itu, si ibu tergeletak di sebelah saya, suami saya mulutnya bersimbah darah. Saya kalut, saya bingung, saya guncang-guncang badan si ibu untuk bisa bangun, saya menangis dan teriak minta tolong. Di sini saya menyaksikan kasih Tuhan yang luar biasa. Puji Tuhan, saya hanya memar di kaki, namun suami harus dijahit di bagian mulut karena sobek terkena aspal dan yang paling fatal, si ibu harus dilarikan ke RS karena setengah sadar dan matanya bengkak. Sungguh beruntung, ada seorang bapak yang sedang mengendarai mobilnya, bersedia mengantar si ibu ke klinik terdekat, TANPA MAU DIBAYAR (Thanks Pak!) Beruntung si suami (saya kira ini betul-betul mukjizat), dengan sisa kesadaran dan tenaga yang ia miliki, dengan darah yang mengucur deras dari mulutnya, dia masih bisa mengendarai motornya sampai ke klinik terdekat juga.

Setibanya di klinik, Si klinik tidak dapat berbuat banyak, hanya memberi oksigen ke si ibu, juga menutup hidung dan mulut pak suami untuk menghentikan sementara perdarahannya. Karenanya kami langsung berangkat lagi ke RS terdekat. Di RS, Pak suami dijahit di bagian mulut, si ibu mulai muntah darah. Menurut dokter jaga, si ibu harus di-CT scan. Sayangnya lagi, ini RS tidak punya peralatan CT scan sehingga kami harus pindah RS #lagi. Langsung Saya pesan mobil online karena ambulance tidak bisa sembarangan antar pasien ke RS (harus ada persetujuan dari RS yang dituju untuk menerima si pasien). Well, pas si bapak mobil online datang, tahu ga yang dia khawatirkan? Nope, bukan si ibu, tapi jok mobilnya! "Aduh bu, ada tatakan ga, aduh itu nanti darahnya kena jok saya gimana ya? endebre endebre". Wow, hari itu langsung diperlihatkan dua orang yang sungguh bertolak belakang, yang satu baiknya seperti malaikat, yang satu, hmm... silakan anda namakan sendiri. 

Untungnya kakak kandung saya (si koko), sudah saya infokan, koko langsung meluncur ke RS. Pas saya ditolak si mobil online, posisi si koko udah mau sampai. Jadilah kami naik mobil si koko ke RS yang lebih lengkap peralatannya. Diperiksa sana sini, ct scan sana sini, kasih obat, dll. The bad news is si ibu harus dirujuk lagi karena ada pendarahan di otak, perlu diperiksa oleh dokter bedah saraf. Sigh. Dokter IGD langsung mencari RS rujukan, satu persatu menolak yang intinya beralasan kamar penuh, peralatan tidak lengkap, dsb dll. Sampai akhirnya ada koko sepupu yang seorang dokter di Jakarta, menawarkan mencarikan ruangan di RS tempat ia bekerja (dan ternyata ada) sehingga malam itu juga si ibu dipindahkan #lagi.

Seharian itu, kami semua tidak nafsu makan, kami semua bengong dan bingung. Tapi anehnya, kasih Tuhan memang indah. Kasih Tuhan tak cuma materi kan? Hari itu, saya seperti diberi kekuatan dan yang terpenting DAMAI SEJAHTERA. Meski sedang menghadapi cobaan, dalam diri ini seperti ada suara yang mengingatkan, Tuhan selalu menyertaimu. Sabar dan ikuti jalan-Nya. Begitu terus, dan memang seperti saya dibimbing, dibukakan jalan satu persatu. Satu kata: pasrah. 

Malam itu saya tidak dapat tidur nyenyak sampai hari berikutnya karena kepikiran gimana coba, kalau si ibu harus sampai operasi kepala. Duh, pasti MAHAL beut! Apalagi setelah ngobrol dengan keluarga pasien ICU lainnya. Adalah yang sudah satu setengah bulan belum keluar dari ICU, adalah yang baru dioperasi kepalanya, batok kepalanya masih disimpan di atas perutnya (karena menunggu progress yang berarti). Iseng sambil takut, saya tanya berapa biaya operasi kepala, well, 95 juta saja! Langsung mual, pusing, bengong denger ini. Langsung kepikiran macem2, terutama, cari duit dari mana, aduh biyung...

Sampai hari berikutnya, itu terus yang saya pikirkan. Sore hari kedua ini, barulah si ibu diperiksa oleh dokter bedah saraf dan...... dinyatakan tidak harus operasi kepala. Wow, praise the Lord! Satu batu tersingkir. Sungguh agak lega mendengar itu. Dasar manusia, apa coba yang dipikirkan, kalau bukan, berapa biayanya? Iya kan? Another bad news: si ibu ga punya BPJS dan keluarganya pun kebingungan, ga bisa bantu biaya, karena ya mereka termasuk keluarga yang "agak kekurangan" . Ketambahan, ternyata anak si ibu baru lahiran, jadi keluarga merekapun terpecah, terbagi perhatiannya. Yang harusnya hari itu si ibu nengok cucu, tapi apa daya si ibu harus terbaring di ruang ICU. FYI, RS sekarang itu RS swasta di Jakarta. WOW. Yah kebayang kan yah mulesnya mikirin ini biayanya gimana? Setiap saya pikirin itu, Tuhan selalu bicara, "jangan takut, jangan khawatir." Beeeggiiituu terus. Wow, Tuhanku dahsyat! 

Tapi tenang, masih ada 1 PR lagi, si ibu mengalami patah tulang. Yes, harus dioperasi. Sampai tulisan ini dibuat, kabar terakhir, kalau kondisi ibu stabil, besoknya sudah boleh pindah ke ruang inap (tambah lega lagi). Dilihat sampai 5 hari ke depan, kalau kondisi ibu stabil, dokter bedah saraf membolehkan si ibu untuk operasi patah tulangnya.

Jadi, apa yang kamu dapat nak?
First, life must go on. Mau kamu susah, senang, sedih, ribet. Hidup dan hari terus berjalan kan? Ga mungkin kita berlarut dalam kesedihan dan kekalutan terus menerus, ga ada gunanya kan? So, ku selalu semangatin diri ini juga pak suami, ayo, kita tetap semangat. Tuhan pasti menolong, pasti mendampingi kita melewati cobaan ini. Dunia tak berhenti berputar kan, meski kita sedang bersedih begini? Jangan takut, sungguh. Hadapi saja. Menangis seperlunya, tapi bangkit lagi, segera selesaikan perkara ini.

Second, percaya Tuhan selalu campur tangan, menuntun kita yang berserah pada-Nya. Ini betulan. Bagi saya, ini cobaan terberat selama 28 tahun saya hidup di bumi. Tapi melalui cobaan ini, saya baru pertama kali dengan jelas merasakan tangan Tuhan tak pernah lepas, selalu memegang tangan ini.

Terlebih pencobaan ini semakin menguatkan hubungan saya dengan pak suami, dengan keluarga, juga menambah kenalan dan kerabat. Wow, bisa juga loh saya melihat dari kacamata positif seperti ini. Puk puk myself. Oh iya, Saya sungguh bersyukur, dukungan sahabat, teman2 komsel dan gereja tak hentinya mengalir. Sungguh kubersyukur!

Sampai tulisan ini ditayangkan, kami masih dalam penantian, supaya 4 hari ke depan, kami mendapat kabar baik, semoga si ibu tetap stabil sehingga bisa dilakukan operasi tulangnya.

I surrender to you Lord.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.