Pelajaran hidup (yang sangat mahal dan berharga) PART 2

Papi Viky's collection

Supaya update monggo dibaca dulu Part 1 nya ya.

Fresh from the oven, hari ini kami merasa lega setelah bersalaman dengan si ibu dan keluarga. Yes, si ibu hari ini sudah diijinkan untuk rawat jalan. 

23 Juni 2019
Si ibu di ct scan ulang, jadi si dokter bedah saraf mau memastikan bahwa perdarahan di otak ibu stabil sehingga ibu bisa dioperasi tulang bahunya. Ok, sambil tunggu hasil, saya juga antar pak suami ke poli gigi RS Jakarta, karena doi juga harus dicek gigi dan rahangnya yang geser (yes, geser ugh...)

Cerita dikit soal pak suami, tak biasanya kami ga harus menunggu lama untuk dokter bedah mulut langganan kami. Langsung tanpa babibu, pak dokter periksa, ealah. Kzl deh. Ternyata hasil jahitan dari RS sebelumnya (read: RS Harapan Sehati), wow, jelek banget. Menurut pak dokter, satu, itu benang jahit yang dipake geda betul, jadi emang mulut pak suami agak monyong gegara itu, dua, yang paling gengges, jaringan mati (istilah pak dokter mikrotik aka jaringan busuk) nya kaga dibuang cuiii... Jadi kalo dibiarkan begitu saja, itu luka tidak akan sembuh, alias jadi korengan. Hiks. Kasian pak suami. Jadilah pak dokter gemes, lalu pengen jahit ulang lukanya pak suami. Lalu si pak dokter periksa rahang dan request supaya pak suami di ct scan bagian rahangnya itu, feeling pak dokter bisa jadi harus operasi rahang (nah denger kata operasi, langsung deh pak suami bengong, cemas, karena dia itu takut banget sama yang judulnya operasi). Jadi selama kami menunggu dipanggil untuk ct scan, dia udah kelihatan stres banget. Betul betul dipikirin mendalam, duh harus operasi, dia takut BGT. Sampai selesai ct scan, balik lagi ke pak dokter dan dibilang harus foto cb ct karena hasil ct scan nya nda memadai, patahannya tipis katanya, tapi si dokter pengen double check dengan menyarankan kami pergi ke klinik gigi FKG UI (kebetulan si dokter dosen juga di sana). Ok baik, jadi si dokter baru bisa memutuskan operasi atau ngga-nya setelah doi lihat hasil cb ct nya. (per hari ini, hasilnya belum keluar, masih nunggu dokter radiologi FKG UI untuk baca dulu). Balik lagi ke cerita di RS Jakarta, pak dokter ini luar biasa baik, dia kesel dan kasihan lihat jahitan pak suami. Langsung dia bilang, mau betulin itu jahitan, dan bener pake benang yang lebih halus, "diguntingin" juga jaringan busuknya, bagus dan rapi deh hasil kerjanya. Dan yang paling bikin kami berterima kasih, dia ga mau dibayar untuk tindakan jahit ulangnya ini. (thanks, pak dok, upahmu besar di surga). Pulangnya, pak suami dikasi antibiotik juga pain killer. But, huhhh, pas perjalanan pulang, efek biusnya mulai hilang, pak suami mulai kesakitan, pake banget. Perih banget katanya hasil jahitannya. Kasian banget lihatnya, tersiksa gitu. Sepertinya pain killernya juga cara kerjanya perlahan banget, karena baru pas sampe rumah, dia udah bisa agak tenang dan bisa tidur. Fiuh. Oke cukup perkara hari ini. Cukup tahu juga kualitas RS Harapan Sehati itu seperti apa.



24 Juni 2019
Setelah tahu ibu sudah boleh dioperasi, saya coba tanyakan perkiraan biaya di RS Mita berapa. Ternyata sekitar 27,2juta :( Langsung kami negosiasi lagi dengan keluarga si ibu dan akhirnya memutuskan supaya ibu dipindah dan dioperasi di RSUD Depok (lebih dekat ke rumah keluarga juga seharusnya biayanya lebih murah). Short story, ribet cari ambulance lagi, cari ruangan lagi (untung dapat kamar di RSUD Depok). Intinya, pada malam itu, kami pindahka si ibu ke RSUD Depok. Si ibu ditempatkan dulu di IGD, setelah kamarnya siap, lalu ibu dipindah ke rawat inap. Update berikutnya, ibu diperiksa ulang sama dokter-dokter di sana, cek tulang, cek perdarahan di kepala, cek THT juga, cek semua lagi deh. Sampai akhirnya si dokter tulang mau mengoperasi si ibu.

28 Juni 2019
Hari si ibu dioperasi. Puji Tuhan operasinya lancar. 



30 Juni 2019
Sebetulnya ibu sudah boleh pulang, tapi karena saya dan pak suami lagi di luar kota (nengokin anak) jadi kami minta supaya ibu dirawat 1 malam lagi. Sambil saya tanya berapa biaya operasinya, ngik ngok 15,8jutaan. Agak kaget karena katanya perkiraan 10juta tapi ternyata melebihi. Pihak keluarga sana seperti sudah pasrah, bener bener pasrah untuk masalah dana. Itu semua kami yang tanggung. Sepanjang perjalanan kembali ke Bogor saya minta supaya Tuhan memberi saya hati yang ikhlas, berat loh ini... T^T

1 Juli 2019
Pagi ini kami ke RSUD Depok untuk urus-urus ibu keluar RS. Total biaya sekitar 19jutaan. Puji Tuhan, Tuhan yang menyediakan. Hari ini hati ini rasanya lega sekaliii... Ikhlas dan damai di hati... Kami bersalaman, membuat surat pernyataan bersama dan berjanji untuk tetap menjalin silaturahmi. Ya, selalu ada hikmah kata si ibu, untuk si ibu dan keluarga juga untuk keluarga kami. Apapun itu, mungkin kalau ini difilmkan, happy ending deh intinya. 



PS
Di hari Jumat lalu, saya ikut persekutuan doa. Di tengah kegalauan saya, apakah iya harus kami juga yang menanggung semua biaya si ibu. Seharian, isi pikiran saya cuma hitung-hitungan, serius deh. Eh, itu pak pendeta, kasih cerita yang emang pas banget untuk masalah saya ini. Khotbahnya kemarin adalah tentang seberapa dalam kita ingin mengenal dan mengikut Yesus. Mengikut Yesus itu sulit sekali loh. Pelajaran ikhlas untuk membantu sesama yang tidak berdaya, beughhhh... Hari itu saya menangis setelah mendengar khotbah pak pendeta. Saya minta dikuatkan, diberi betul-betul hati yang ikhlas itu. Diingatkan bahwa rancangan Tuhan itu pasti baik, tidak ada yang tidak baik. Betul-betul Tuhan menuntun saya hari itu. Sampai saya langsung telpon pak suami dan bilang. Pih, kita ikhlas ya kalau musti bayar semua biaya nya si ibu. Terima kasih pak pendeta, atas konfirmasi ini. Baik, kami mau mengikut apa kata Yesus. 

Ok sekarang PR nya adalah lanjut tindakan untuk rahangnya pak suami (sampai tulisan ini dipublish, kami masih menunggu dokter radiologi FKG UI untuk baca hasi cb ct nya.) Mudah-mudahan hasilnya baik, yah pokoknya yang terbaik deh buat pak suami. Amin.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.