Marriage: 3 years old

21.28
Di zaman serba sosmed seperti sekarang-sekarang ini, banyak banget newsfeed yang bisa kita lihat.
Dari mulai kawinan teman, kerabat yang meninggal, berita-berita yang lucu sampai yang bisa bikin geleng-geleng kepala.

Baru-baru ini saya lihat di Instagram, postingan 1 set wedding ceremony and celebration. Cantik, mewah, so good to be true. Lalu teringat kembali momen wedding saya sendiri, dan tak saya pungkiri tentu saya bandingkan dengan yang barusan saya lihat. Sejenak iri? Yes. Sangat manusiawi. Siapa yang ga mau weding yang megah dan mewah? Sesaat setelah iri, seperti mendapat bisikan, betul-betul seketika itu juga Tuhan menegurku. Huzzz... Lita, bersyukurlah, yang penting pesta pernikahanmu adalah hasil keringatmu sendiri, banyak keluarga dan kerabat yang datang dan mendoakan. Sungguh itu harus kamu syukuri. Seketika itu langsung tersadar dan bangga pada diri sendiri dan suami. #Ciyeh.

Tak berasa sudah 3 tahun semenjak hari pernikahan kami. Banyak orang bilang, pesta pernikahan lewat, saatnya menghadapi realita. It is not everyday happy ever after. I can say, that's true. Pernikahan bukan hanya cerita indah di awal, but the most important thing is berjuang bersama, belajar menerima satu sama lain. Well. It's hard. Tapi saya yakin kami pasti bisa!

Mencintai di saat perut kenyang, pemandangan indah, dan ruangan penuh gelak tawa. Tentu itu mudah. Tapi mencintai di saat berada di titik terendah, di saat frustasi melanda, banyak hal tak beres di kerjaan, beradu pendapat tanpa ada satupun yang bisa mengalah, merasa satu pihak mengambil keputusan sepihak, tanpa diskusi. Fiuh, percayalah, hanya waktu dan keikhlasan yang kita perlukan. Mencintai di saat seperti itu, sangat sangat sulit.

Beruntungnya, separah apapun kami beda pendapat, namun yang kami selalu tanamkan dalam hati, berdebat untuk mencari solusi, berdebat bukan untuk saling melepaskan. Berharap sikap ini tetap terus ada dalam pernikahan kami.

Pesanku untuk teman-teman yang belum menikah, kalian boleh mencari calon pasangan sesuai standar dan selera kalian. Tapi satu poin yang harus ada dalam diri pasangan dan diri kalian sendiri adalah sikap mengalah dan tidak mementingkan diri sendiri, itu yang harus harus harus ada dan harus selalu diusahakan.

Punya calon suami, anak orang kaya, ganteng, pinter beuh perfect to the max, itu impian dan sah sah saja untuk memimpikannya. Tapi, cobalah menilai calon kita di saat ia menghadapi masalah. Di saat kalian ada masalah. Perhatikan caranya mengajakmu berdiskusi, apakah ia memaksakan kehendak? apakah ia orang yang selalu mengalah? apakah ia tipe orang yang harus memegang kendali? apakah ia akan marah dan meninggalkan kalian sendirian?

Tetiba serasa menjadi konsultan pernikahan hahaha... Tapi memang menikah itu adalah pendidikan yang tidak pernah ada kata lulus, selalu belajar, belajar dan belajar lagi. 

Selamat 3 tahun sayang, tetap cintai aku apa adanya ya.

PS: Percayalah, draft postingan ini sudah ada dari tahun lalu, baru sekarang termotivasi untuk merilisnya.

“A happy marriage is about three things: memories of togetherness, forgiveness of mistakes, and a promise to never give up on each other.” —Surabhi Surendra




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.