Contoh Good Parenting

20.38
Liat judul ini, masih berasa bener-bener belum ngeh, kalau ada si baby di perut saya ini. Banyak perubahan yang terjadi setelah menikah dan hamil sekarang, termasuk perubahan pemilihan bahan bacaan. Duh, hidup berjalan begitu cepat rasanya.

Saya ingat saya pernah membaca salah satu pendapat netizen, bahwa sebanyak apapun buku parenting atau pengetahuan parenting yang kita baca, ada kalanya kita akan blank, dan tidak tahu harus berbuat apa saat berhadapan dengan anak kita sendiri. Ahahaha... Sama halnya dengan sebanyak apa buku dan pengetahuan tentang ibu hamil dan menyusi, semua itu "katanya" akan sirna saat kita -ibu-ibu- menghadapi bayi kita sendiri. Well, entahlah, saya sendiri belum bisa berkomentar apa-apa karena saat ini saya masih mengandung, si baby pun belum lahir. Meski demikian, hobi surfing di internet tetap membuat saya haus akan bacaaan-bacaan terkait kehamilan, menyusi dan seputar parenting tentunya. Kalau memang nantinya akan terlupakan, setidaknya saya ingin menyimpan satu cerita parenting ini di blog saya.

Satu cerita sederhana, yang saya lihat sendiri ketika jalan-jalan di Ecopark Ancol. Tanggal 26 Desember lalu, suami, sepasang suami istri sahabat kami dan saya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke Ecopark Ancol. Jalan-jalan ini terwujud karena berhubung saya hamil, jadi keinginan saya yang ingin menghirup udara segar, dituruti oleh suami dan sahabat kami ini. Senangnya ahahaha... Ya, meski tak jauh, hanya ke Ancol, tapi setidaknya kami bisa meluruskan kaki, melihat pepohonan, ya, sedikit berdampak lah untuk menghilangkan kepenatan hidup kami di ibukota.

Sayangnya kami hanya sebentar di sana dan sebelum pulang, kami sempat duduk-duduk di dekat pintu masuk. Sepertinya kejadian inipun hanya saya saja yang melihat, suami saya sedang asyik memotret pasangan suami istri sahabat kami ini, tak jauh dari tempat saya duduk.

Di seberang tempat duduk saya, duduklah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Mungkin usia anak-anak tersebut kisaran 4-8 tahunan. Ayah, ibu dan 2 anak perempuan mereka duduk bersama pada 1 kursi panjang tepat di depan kursi saya. Mereka sedang asyik membawa semangkok mi baso dan mulai menyantapnya. Hal unik meski sederhana yang menarik perhatian saya adalah saat seorang anak perempuan bertubuh gempal dan berambut keriting berkata,"Terima kasih ya ma, terima kasih ya pah." Sambil matanya tetap tertuju pada baso yang sedang ia nikmati. Anak perempuan lainnya, dan dua anak laki-laki lainnya pun, langsung mengikuti dengan mengucapkan terima kasih kepada ayah ibu mereka. Gemes. Banget. Terharu. Banget. Mungkin ini hal sepele, tapi berhasil membuat bumil dengan hormon yang labil ini, sangat terharu. Sambil saya berjanji dalam hati, saya ingin mengajarkan anak saya menjadi seperti anak-anak itu. Sebelum adegan itu, saya membayangkan, bagaimana lelahnya sang ibu, mengurus keempat anaknya itu. Wah, ga kebayang deh. But she did it!

Sayapun berharap kelak bisa menjadi ibu yang sabar mengajarkan segala hal pada anak-anak kami. Karena saya sadar diri, saya ini orangnya ga sabaran, perfeksionis abis. Tapi saya terus mengingatkan diri saya, jangan sampai saya mematok dan memaksa anak saya untuk menjadi seperti yang saya mau. Saya ingin mereka tumbuh di keluarga yang penuh kasih dan demokrasi, mengajarkan kemandirian dan mendampingi mereka hingga dewasa dan bisa berdiri sendiri.

Huwaaaa.. mesti belajar banyak nih, but I am pretty sure, this would be fun and I cannot wait to see you my baby, my cute partner. :)

"The attitude that you have as a parent is what your kids will learn from, more than what you tell them. They don't remember what you try to teach them. They remember what you are." (Jim Henson)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.