Pelajaran hari ini : ILMU IKHLAS

18.13

Pagi hari ini seperti biasa aku terbangun dan dengan semangat tertinggal di kasur, kulangkahkan kakiku untuk bangun mempersiapkan diri menghadapi rutinitas, ya, bekerjaaa...  Namun mungkin karena hawa liburan sudah begitu pekat, semua sel-sel tubuhku pun sudah mulai protes dan menuntut libur yang akan segera datang.

Aktivitasku setelah bekerja adalah kuliah malam. Ya, mendengarkan dosen ceramah ditambah kekagetan karena akan diadakan kuis yang untungnya dengan protes para mahasiswi, kuis diubah menjadi latihan biasa menjelang UAS. Legaaa...

Ya... begitulah rutinitasku setiap hari yang tak bisa dihindari.

Pelajaran hari ini adalah ilmu ikhlas. Ya... sepertinya aku mengingat istilah itu ketika belajar pendidikan kewarganegaraan di bangku SMP. Sikap yang sepertinya sudah lama hanya tersimpan dan hampir dilupakan.

Tapi hari ini aku diingatkan kembali mengenai apa arti keikhlasan itu.

Pulang kuliah, aku biasanya dijemput oleh sang kakak ketemu gede, tapi berhubung dia ada acara kantor, malam ini aku pulang naik taksi. Malam ini seperti biasa, setelah hujan, jalanan di Jakarta macet khususnya di dekat kampusku. Aku cukup kesulitan untuk mendapatkan taksi karena kebanyakan supir taksi yang mangkal, mereka sedang istirahat setelah selesai bertarung dan bersabar menghadapi kemacetan yang mereka lalui. Karenanya aku pun berjalan untuk mencari taksi yang bisa mengantarku pulang ke kos dengan selamat.

Setelah berjalan cukup jauh, ada taksi putih itu yang segera kuberhentikan. “Karet Setiabudi, pa...” kataku singkat. Kulihat permukaan luar taksi ini basah dan setelah kutanyakan pada supirnya ternyata dia telah menempuh jalan di daerah Ciganjur yang sedang turun hujan lebat. Kamipun terlibat percakapan singkat seputar hujan disertai kilat dan petir hebat yang akhir-akhir ini terjadi. Sekilas kunilai pa supir ini adalah orang yang ramah. Dalam perjalanan singkat menuju kosku, ternyata ada truk yang diparkir dan memenuhi setengah jalan yang seharusnya kami lewati. Untunglah sudah dekat dengan kosku. Kuputuskan untuk turun di situ saja dan melanjutkan perjalananku dengan berjalan kaki. Ketika akan membayar, kubuka dompetku dan berkata, “Saya bayar pakai receh ga papa, pa?” “Ya mau dibayar mau tidak terserah non, Saya mah cari ikhlasnya saja.” Jawab pa supir. 

Ucapan pa supir itu kurenungkan sembari berjalan menuju kosku. Ya ampun, ngena banget deh. Ya, akhir-akhir ini aku merasa kecewa dengan semua hal yang ada di sekitarku. Tak tahu seberapa sering aku mengeluh atas keadaan yang tidak seturut ‘kehendakku’ dan akhirnya orang-orang sekitar yang terkena dampaknya.

Kalimat sederhana pa supir itu telah ‘mencambukku’ Aku pun merefleksi apa yang telah kuperbuat akhir-akhir ini. Kubandingkan jumlah keluhan dan keikhlasan yang kumiliki. Amazing. Hampir tak pernah rasanya aku merasa ikhlas atas segala sesuatu yang terjadi dan tidak seperti yang kuingini. Aku jadi uring-uringan, melimpahkan hawa negatifku pada orang sekitar dan merasa bersalah sendiri.

Aku tak tahu ke mana rasa ikhlas yang kumiliki. Aku merasa karena aku berhak untuk mendapatkannya, seharusnya ya itu kudapatkan. Namun apa yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Kecewa.

Setelah kurefleksi kembali, apa yang telah kuraih dan kumiliki saat ini, sungguh teramat baik. Orang tuaku yang selalu mendoakan dan mendukung setiap langkahku, pacar yang senantiasa menemani , menjaga dan mengajarkan arti menjadi dewasa, pekerjaan yang kumiliki, dan masih banyak lagi.

Ya Tuhan... Maafkan diri ini yang telah melupakan apa itu keikhlasan, yang selalu tak pernah puas atas apa yang telah kupunya... Lewat seseorang yang sederhana, Kau telah memberiku pelajaran yang begitu berarti... Terima kasih Tuhan atas hari ini, atas berkat dan karuniamu, atas orang-orang di sekitarku, atas seeeemmmuuaa hal yang telah kumiliki. Engkau Allah yang baik dan sungguh teramat baik. Thanks Jesus :)


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.