Pelajaran hari ini : ILMU IKHLAS
Pagi hari ini seperti biasa aku terbangun dan dengan
semangat tertinggal di kasur, kulangkahkan kakiku untuk bangun mempersiapkan
diri menghadapi rutinitas, ya, bekerjaaa...
Namun mungkin karena hawa liburan sudah begitu pekat, semua sel-sel
tubuhku pun sudah mulai protes dan menuntut libur yang akan segera datang.
Aktivitasku setelah bekerja adalah kuliah malam. Ya, mendengarkan
dosen ceramah ditambah kekagetan karena akan diadakan kuis yang untungnya
dengan protes para mahasiswi, kuis diubah menjadi latihan biasa menjelang UAS.
Legaaa...
Ya... begitulah rutinitasku setiap hari yang tak bisa
dihindari.
Pelajaran hari ini adalah ilmu ikhlas. Ya... sepertinya aku
mengingat istilah itu ketika belajar pendidikan kewarganegaraan di bangku SMP.
Sikap yang sepertinya sudah lama hanya tersimpan dan hampir dilupakan.
Tapi hari ini aku diingatkan kembali mengenai apa arti
keikhlasan itu.
Pulang kuliah, aku biasanya dijemput oleh sang kakak ketemu
gede, tapi berhubung dia ada acara kantor, malam ini aku pulang naik taksi.
Malam ini seperti biasa, setelah hujan, jalanan di Jakarta macet khususnya di
dekat kampusku. Aku cukup kesulitan untuk mendapatkan taksi karena kebanyakan
supir taksi yang mangkal, mereka sedang istirahat setelah selesai bertarung dan
bersabar menghadapi kemacetan yang mereka lalui. Karenanya aku pun berjalan
untuk mencari taksi yang bisa mengantarku pulang ke kos dengan selamat.
Setelah berjalan cukup jauh, ada taksi putih itu yang segera
kuberhentikan. “Karet Setiabudi, pa...” kataku singkat. Kulihat permukaan luar
taksi ini basah dan setelah kutanyakan pada supirnya ternyata dia telah
menempuh jalan di daerah Ciganjur yang sedang turun hujan lebat. Kamipun
terlibat percakapan singkat seputar hujan disertai kilat dan petir hebat yang akhir-akhir
ini terjadi. Sekilas kunilai pa supir ini adalah orang yang ramah. Dalam
perjalanan singkat menuju kosku, ternyata ada truk yang diparkir dan memenuhi
setengah jalan yang seharusnya kami lewati. Untunglah sudah dekat dengan kosku.
Kuputuskan untuk turun di situ saja dan melanjutkan perjalananku dengan
berjalan kaki. Ketika akan membayar, kubuka dompetku dan berkata, “Saya bayar
pakai receh ga papa, pa?” “Ya mau dibayar mau tidak terserah non, Saya mah cari
ikhlasnya saja.” Jawab pa supir.
Ucapan pa supir itu kurenungkan sembari berjalan menuju
kosku. Ya ampun, ngena banget deh. Ya, akhir-akhir ini aku merasa kecewa dengan
semua hal yang ada di sekitarku. Tak tahu seberapa sering aku mengeluh atas
keadaan yang tidak seturut ‘kehendakku’ dan akhirnya orang-orang sekitar yang
terkena dampaknya.
Kalimat sederhana pa supir itu telah ‘mencambukku’ Aku pun
merefleksi apa yang telah kuperbuat akhir-akhir ini. Kubandingkan jumlah
keluhan dan keikhlasan yang kumiliki. Amazing. Hampir tak pernah rasanya aku
merasa ikhlas atas segala sesuatu yang terjadi dan tidak seperti yang kuingini.
Aku jadi uring-uringan, melimpahkan hawa negatifku pada orang sekitar dan
merasa bersalah sendiri.
Aku tak tahu ke mana rasa ikhlas yang kumiliki. Aku merasa
karena aku berhak untuk mendapatkannya, seharusnya ya itu kudapatkan. Namun apa
yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Kecewa.
Setelah kurefleksi kembali, apa yang telah kuraih dan kumiliki
saat ini, sungguh teramat baik. Orang tuaku yang selalu mendoakan dan mendukung
setiap langkahku, pacar yang senantiasa menemani , menjaga dan mengajarkan arti
menjadi dewasa, pekerjaan yang kumiliki, dan masih banyak lagi.
Ya Tuhan... Maafkan diri ini yang telah melupakan apa itu
keikhlasan, yang selalu tak pernah puas atas apa yang telah kupunya... Lewat
seseorang yang sederhana, Kau telah memberiku pelajaran yang begitu berarti... Terima
kasih Tuhan atas hari ini, atas berkat dan karuniamu, atas orang-orang di
sekitarku, atas seeeemmmuuaa hal yang telah kumiliki. Engkau Allah yang baik
dan sungguh teramat baik. Thanks Jesus :)
Tidak ada komentar: