Tugas Matkul Jurnalistik
Akhirnya menelurkan satu karya setelah belajar matkul jurnalistik...
Peran Ganda, Siapa Takut?
Minggu, 25 Mei 2013
Jakarta – Fenomena
seorang wanita karier yang sekaligus menjadi ibu rumah tangga, semakin marak terjadi
saat ini. Tertarik dengan hal tersebut, penulis mencoba menggali lebih jauh
dengan mewawancarai salah satu ibu yang memiliki peran ganda tersebut. Mari
kita simak hasil wawancara penulis dengan salah satu Dosen STIKS Tarakanita,
Ibu Yulita Daru Priliantari.
Ibu Yulita Daru
Priliantari atau yang biasa disapa dengan Ibu Daru ini memulai kariernya
sebagai Dosen sejak tahun 1990 di STIKS Tarakanita. Sampai saat ini, Beliau
masih aktif mengajar mata kuliah Komunikasi dan Bahasa Inggris di STIKS
Tarakanita. Selain menjadi Dosen, beliau juga dipercaya untuk memegang jabatan
Puket II di Sekolah Tinggi tersebut.
Di usia 27 tahun,
beliau menikah dengan seorang anggota TNI AD dan saat ini telah dikaruniai dua
orang anak. Ketika ditanya pendapatnya mengenai wanita yang bekerja sekaligus
menjadi ibu rumah tangga, Ibu Daru menyampaikan bahwa fenomena tersebut memang
tuntutan zaman sekarang dan merupakan suatu hal yang baik.
Lebih lanjut lagi Ibu
Daru menjelaskan, salah satu cita-citanya adalah memberikan pendidikan dengan
kualitas terbaik pada anak-anaknya, maka mau tidak mau beliau harus bergotong
royong dengan suami untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. “Pada awalnya,
Saya ingin menjadi ibu rumah tangga saja setelah menikah, tidak mau bekerja
lagi. Namun Saya sadari, dengan cita-cita ingin menyekolahkan anak-anak di
sekolah yang berkualitas, hal inilah yang kemudian mendorong Saya untuk tetap
bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga.” ungkapnya.
Ibu yang pada awalnya
bercita-cita menjadi seorang guru ini menyampaikan bahwa memang tidaklah mudah
untuk menjalani kedua peran tersebut secara seimbang. Namun berkat dukungan
suami dan anak-anaknyalah, beliau dapat menjalani kedua peran tersebut sampai
saat ini. Ibu Daru menceritakan bahwa saat-saat tersulit dan terberat dalam
menjalani kedua perannya ini adalah ketika kedua anaknya masih kecil-kecil.
Ditambah sang suami yang ditugaskan di luar pulau, menjadi tantangan tersendiri
bagi Ibu yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan di STIKS Tarakanita
ini. Beliau juga mengakui sempat terlintas untuk melepaskan salah satu
perannya, namun dengan semangat dan pantang menyerah, Ibu Daru tetap berusaha menjadi
ibu dan karyawan yang bertanggung jawab.
“Pada awalnya memang
begitu sulit, namun hal positif yang bisa Saya ambil dari keadaan ini adalah
Saya dapat melatih anak-anak untuk belajar mandiri. Meski dibantu oleh
pengasuh, hal-hal yang bersifat prinsip, Saya ajarkan sendiri pada anak-anak.”
paparnya. Ibu yang sudah terbiasa mengajar sewaktu masih kuliah ini juga menjelaskan,
hambatan utama dalam menyeimbangkan kedua peran ini adalah kesulitan dalam
membagi waktu. Namun hambatan ini, beliau atasi dengan meningkatkan kualitas
perhatian pada setiap peran. “Saya selalu berusaha untuk berdoa bersama atau
mengobrol sebelum tidur bersama anak-anak. Di samping itu, setiap hari Sabtu
dan Minggu Saya alokasikan untuk keluarga seperti memasak makanan kesukaan
suami dan anak-anak.” terangnya.
Lalu adakah
orang-orang yang beliau jadikan panutan atau acuan dalam menjalankan peran
gandanya tersebut? “Ya, Saya melihat bahwa tante-tante Saya banyak yang sukses
dalam menjalani kedua perannya ini. Salah satu tante Saya bahkan memiliki lima
orang anak dan semua anak-anaknya dapat berhasil, terutama di bidang pendidikan
mereka. Jadi, merekalah yang Saya jadikan contoh dan acuan bahwa Saya juga bisa
berhasil seperti mereka.”
Namun tak dapat
dipungkiri, dalam setiap peran tentu memiliki masalah tersendiri. Mengenai hal
ini, Ibu Daru mencoba mengatasinya dengan menyimpan masalah-masalah tersebut
pada “lemari es.” “Tentu tidak mudah untuk memisahkan masalah dalam keluarga
dan pekerjaan, namun Saya mencoba untuk menyimpan masalah keluarga dalam
“lemari es” ketika Saya akan memulai pekerjaan Saya, begitu juga sebaliknya.
Ketika pulang bekerja, Saya tidak mau membawa masalah-masalah dalam pekerjaan apalagi
menjadikan keluarga sebagai pelampiasan.” Lebih jauh lagi beliau menjelaskan,
bila masalah-masalah yang terjadi sangatlah pelik dan sulit dilupakan, beliau
akan berjalan santai menuju rumah sambil menikmati pemandangan. Dengan hal ini,
diharapkan masalah-masalah tersebut akan dapat beliau lupakan untuk sementara
waktu.
Pada akhirnya, ini
semua memang kembali pada pilihan kita masing-masing. Apakah kita ingin menjadi
ibu rumah tangga, wanita karier maupun menjalani keduanya secara bersamaan. Namun
satu kalimat terakhir yang Ibu Daru ungkapkan dan mungkin bisa menjadi kalimat
motivasi kita bersama adalah jadikanlah setiap hal apapun termasuk masalah yang
sulit sekalipun sebagai berkat Tuhan bagi kita semua. (Yanalita)
Tidak ada komentar: