Tugas Matkul Jurnalistik

06.19

Akhirnya menelurkan satu karya setelah belajar matkul jurnalistik... 


Peran Ganda, Siapa Takut?
Minggu, 25 Mei 2013

Jakarta – Fenomena seorang wanita karier yang sekaligus menjadi ibu rumah tangga, semakin marak terjadi saat ini. Tertarik dengan hal tersebut, penulis mencoba menggali lebih jauh dengan mewawancarai salah satu ibu yang memiliki peran ganda tersebut. Mari kita simak hasil wawancara penulis dengan salah satu Dosen STIKS Tarakanita, Ibu Yulita Daru Priliantari.
Ibu Yulita Daru Priliantari atau yang biasa disapa dengan Ibu Daru ini memulai kariernya sebagai Dosen sejak tahun 1990 di STIKS Tarakanita. Sampai saat ini, Beliau masih aktif mengajar mata kuliah Komunikasi dan Bahasa Inggris di STIKS Tarakanita. Selain menjadi Dosen, beliau juga dipercaya untuk memegang jabatan Puket II di Sekolah Tinggi tersebut.
Di usia 27 tahun, beliau menikah dengan seorang anggota TNI AD dan saat ini telah dikaruniai dua orang anak. Ketika ditanya pendapatnya mengenai wanita yang bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga, Ibu Daru menyampaikan bahwa fenomena tersebut memang tuntutan zaman sekarang dan merupakan suatu hal yang baik.
Lebih lanjut lagi Ibu Daru menjelaskan, salah satu cita-citanya adalah memberikan pendidikan dengan kualitas terbaik pada anak-anaknya, maka mau tidak mau beliau harus bergotong royong dengan suami untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. “Pada awalnya, Saya ingin menjadi ibu rumah tangga saja setelah menikah, tidak mau bekerja lagi. Namun Saya sadari, dengan cita-cita ingin menyekolahkan anak-anak di sekolah yang berkualitas, hal inilah yang kemudian mendorong Saya untuk tetap bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga.” ungkapnya.
Ibu yang pada awalnya bercita-cita menjadi seorang guru ini menyampaikan bahwa memang tidaklah mudah untuk menjalani kedua peran tersebut secara seimbang. Namun berkat dukungan suami dan anak-anaknyalah, beliau dapat menjalani kedua peran tersebut sampai saat ini. Ibu Daru menceritakan bahwa saat-saat tersulit dan terberat dalam menjalani kedua perannya ini adalah ketika kedua anaknya masih kecil-kecil. Ditambah sang suami yang ditugaskan di luar pulau, menjadi tantangan tersendiri bagi Ibu yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan di STIKS Tarakanita ini. Beliau juga mengakui sempat terlintas untuk melepaskan salah satu perannya, namun dengan semangat dan pantang menyerah, Ibu Daru tetap berusaha menjadi ibu dan karyawan yang bertanggung jawab.
“Pada awalnya memang begitu sulit, namun hal positif yang bisa Saya ambil dari keadaan ini adalah Saya dapat melatih anak-anak untuk belajar mandiri. Meski dibantu oleh pengasuh, hal-hal yang bersifat prinsip, Saya ajarkan sendiri pada anak-anak.” paparnya. Ibu yang sudah terbiasa mengajar sewaktu masih kuliah ini juga menjelaskan, hambatan utama dalam menyeimbangkan kedua peran ini adalah kesulitan dalam membagi waktu. Namun hambatan ini, beliau atasi dengan meningkatkan kualitas perhatian pada setiap peran. “Saya selalu berusaha untuk berdoa bersama atau mengobrol sebelum tidur bersama anak-anak. Di samping itu, setiap hari Sabtu dan Minggu Saya alokasikan untuk keluarga seperti memasak makanan kesukaan suami dan anak-anak.” terangnya.
Lalu adakah orang-orang yang beliau jadikan panutan atau acuan dalam menjalankan peran gandanya tersebut? “Ya, Saya melihat bahwa tante-tante Saya banyak yang sukses dalam menjalani kedua perannya ini. Salah satu tante Saya bahkan memiliki lima orang anak dan semua anak-anaknya dapat berhasil, terutama di bidang pendidikan mereka. Jadi, merekalah yang Saya jadikan contoh dan acuan bahwa Saya juga bisa berhasil seperti mereka.”
Namun tak dapat dipungkiri, dalam setiap peran tentu memiliki masalah tersendiri. Mengenai hal ini, Ibu Daru mencoba mengatasinya dengan menyimpan masalah-masalah tersebut pada “lemari es.” “Tentu tidak mudah untuk memisahkan masalah dalam keluarga dan pekerjaan, namun Saya mencoba untuk menyimpan masalah keluarga dalam “lemari es” ketika Saya akan memulai pekerjaan Saya, begitu juga sebaliknya. Ketika pulang bekerja, Saya tidak mau membawa masalah-masalah dalam pekerjaan apalagi menjadikan keluarga sebagai pelampiasan.” Lebih jauh lagi beliau menjelaskan, bila masalah-masalah yang terjadi sangatlah pelik dan sulit dilupakan, beliau akan berjalan santai menuju rumah sambil menikmati pemandangan. Dengan hal ini, diharapkan masalah-masalah tersebut akan dapat beliau lupakan untuk sementara waktu.
Pada akhirnya, ini semua memang kembali pada pilihan kita masing-masing. Apakah kita ingin menjadi ibu rumah tangga, wanita karier maupun menjalani keduanya secara bersamaan. Namun satu kalimat terakhir yang Ibu Daru ungkapkan dan mungkin bisa menjadi kalimat motivasi kita bersama adalah jadikanlah setiap hal apapun termasuk masalah yang sulit sekalipun sebagai berkat Tuhan bagi kita semua. (Yanalita)


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.