11. Wedding Invitation Part 2

Update khususnya kartu undangan, saat saya sedang mengetik postingan ini, Puji Tuhan, undangan sudah naik cetak. No drama at all. Fiuhhh... :D

Mudah-mudahan ga ada salah cetak ya... Amin.

Lanjut cerita dari postingan sebelumnya, di part 2 ini, saya akan menceritakan lebih detail mengenai proses kami membuat kartu undangan di Loving Cards. Langsung aja ya, saya bagi ceritanya jadi per subtopik biar lebih terarah hehehe...


1. Model Kartu Undangan (Keinginan vs Budget)
Untuk model, saya sebetulnya sudah search di inet sebelum survey ke vendor kartu undangan. Contohnya seperti ini
Bagus kan? Duh kereta kudanya unyu-unyu banget... Hihihihi... Pas saya ajukan ke si kaka, dia suka sih tapi pas kami ke Loving Cards, ide saya langsung dimentahkan karena tidak sesuai dengan budget ahahaha... Untungnya di Loving Cards, banyak kartu yang menarik hati. Maap saya tidak sempat foto-foto saking terpananya #alesan. Memang model kartu berbanding lurus dengan besarnya budget, makin bagus modelnya, makin wow harganya. Akhirnya setelah kami berdiskusi, kami putuskan untuk ambil model yang paling sreg di budget, model one board gitu. Tapi meski one board tetep manis dan oke menurut kami. Oh iya, selain model, jumlah yang dipesan tentu berpengaruh juga ke harganya, makin banyak pesannya, ya makin bisa turun harganya. Berhubung kami hanya pesan 300 kartu, harga yang ditawarkan si Koko Beny sudah tidak bisa ditawar lagi. Hahaha.. Si kaka dan saya mengakui bahwa kami sama-sama tidak jago dalam hal nego, jadilah kami oke-kan harga Rp 8500/kartu (single board berisi 2 lembar kertas), sampul bening-lupa namanya plus kartu ucapan terima kasih dan plastic tentunya. Pengennya sih 5000an saja budget untuk kartu, tapi setelah survey ke beberapa toko di Pasar Tebet dan ke Loving Card ini, memang tidak ada itu harga 5000 tapi dengan kualitas/model yang kami mau. Setelah deal harga, kami lihat contoh model-model one board di sana, duh banyak banget, bagus-bagus lagi. Oh iya, harga 8500 itu 1 warna ya, misal saya kan pilih warna merah, ya udah, tapi sebenernya jadi 2 warna karena kartunya juga berwarna gitu, warna krem. Nah kalau misal, pengen nambah warna, nambah 600 ribu yaaaa. Terkait penambahan warna dan pemilihan model, si koko bener-bener ga kaya jualan, tapi dia melihat kebutuhan dan kemampuan si customer, jadi dia ga keukeuh atau nawarin kita buat model yang mahal-mahal, yang penting penyampaiannya aja tepat. Gitu katanya. Terus untuk penambahan warna, si koko nawarinnya gini, udah dibikin 1 warna dulu, kalau masih kurang sreg, baru kita tambah warnannya. Oh iya, kenapa kita pilih warna merah, di samping merah adalah salah satu warna tema kami, tadinya kami sih pengen warna peach untuk kartu undangannya, tapi pas kami sampaikan ke si koko, katanya kalau warna peach harus 2 warna alias nambah harganya, karena peach itu kan warnanya cerah banget, jadi takut ga bagus, kalau misal ada icon/gambar yang kita tampilkan di kartu. Okesip, untuk model dan warna kami sudah sepakat, sekarang kita lanjut ke konsep kartunya.


2. Konsep Kartu Undangan
Setelah bayar DP, kami disodori formulir untuk diisi. Ya, pasti semua sudah tahu kan, yang diisi, dimulai dari nama capeng, nama ortu, alamat pemberkatan/akad nikah, alamat resepsi, kata mutiara/ ayat alkitab, dll, dsb. Pokonya semua data yang terkait dengan isi kartunya itu. Selesai pengisian form, kami diwawancara (ceileh) oleh si Koko Beny, konsep yang kami mau seperti apa. Jedeng.. Di situ kami berdua bingung, karena belum sempat ngobrol terkait konsep ini. Langsung deh, di tempat, kami dipandu oleh si koko untuk konsepnya. Konsep di sini misalnya, pengen konsep musim gugur, vintage, bebungaan, dll. Jadi, konsep ini yang menentukan, di cover mau dikasih gambar apa? atau dibuat tulisan aja, nah karena kami masih belum ada gambaran, sementara gambar yang ditaruh di cover adalah gambar gereja. Kami sih pengennya ada icon pengantinnya, jadilah ini PR kami berdua, untuk searching icon pengantin yang sreg di hati. Lalu lanjut ke bagian isi, mau pakai bahasa apa? Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin? Untuk bahasa, kami sepakat, Bahasa Indonesia dan Inggris saja. Hehehe... Lalu, PR kami berikutnya tentu, menyiapkan ayat alkitab/kata mutiara yang mungkin akan dicantumkan pada kartu. Di akhir perbincangan kami mengenai konsep, Ko Beny menginformasikan kalau kartu kami akan digarap di Bulan April. Yes, sesuai janjinya, kami follow up Loving Cards di bulan April ini.

3. Step Pembuatan Kartu
Memasuki bulan April, desain kartu kami dibuat dan dikirim lewat email oleh Mas Jae, desainer Loving Cards. Sebelumnya, kami berdua sudah diskusi lebih mantap lagi mengenai konsepnya. Oke, pengen gayanya kaya royal wedding gitu, di mana ada border yang melingkar-lingkar klasik tapi elegan, plus kereta kuda (Cinderela hihihi). Jadi kami infokan deh ke Mas Jae, kalau gambar gerejanya diganti aja jadi gambar kereta kuda. Selang beberapa hari, Ka Viky menerima email dari Loving Cards. Pas buka attachment di email, sontak kami kagum alias suka banget sama yang dibuat, over expectation kami banget. Ahahahaha... Seneng banget... Ga tau sih, apakah kami berdua tipe orang yang cepat puas atau gimana, tapi serius, pas lihat desain yang dibuat, duh pengen cepet-cepet finalisasi ahahaha. Di bagian cover tetap ada gambar gereja, pas di belakangnya baru ada gambar kereta kudanya. Overall, kami suka banget sama desainnya. Bener loh, satu warna merah itu saja, ditambah warna kartunya yaitu krem, udah bagus banget, apalagi yang full color yaaa... Hihihihi... Oke, sebelum finalisasi, kami telisik lagi perbagian, kira-kira apakah semua sudah oke, atau ada yang mau direvisi. Semua icon, gambar, jenis tulisan, kami suka. Tetapi setelah diskusi lagi, kami akhirnya sepakat, kereta kudanya dihapuskan, karena terkesan maksa sih dan juga kami memang tidak menemukan spot yang tepat untuk menaruh kereta tersebut. Keputusan ini, kami ambil pas finalisasi minggu lalu. Total kami ketemu Mas Jae 2x. Pertama untuk lihat desain dan revisi, kedua untuk finalisasi. Salut banget sama tangannya Mas Jae yang mahir banget ngedit desain, cepet banget deh! Ketak ketik klak klik, jadilah desain kami yang final setelah kami rombak urutan, baca berulang-ulang isinya, dan terakhir menghilangkan gambar kereta kuda nan cantik itu. Berat memang, tapi demi harmonisasi konsep yang sudah manis ini, kami relakan kereta kudanya hilang dari desain hahahaha... Oh iya, pas ketemu Mas Jae kedua kalinya, karena belum dibuatkan desain kartu ucapan terima kasih, langsunglah digarap sama si masnya. Saya yang iseng, ngitung berapa lama mas Jae buatin itu kartu ucapan, tadaaaa.. hanya 6 menit saja sodara-sodara. Prok prok prok untuk Mas Jae! Hahahaha. Kami tentu langsung suka, dengan kartu ucapannya, jadi tak ada revisi apa-apa untuk kartu ucapan. Akhirnya, desain tersebut diprint, Ko Beny jelasin sekali lagi, dan minta kami tanda tangan untuk tiap lembar, setelah tanda tangan, kalau misal ada kesalahan, pihak Loving Cards tidak akan bertanggung jawab. Jadi, minggu lalu, kami bener-bener baca berulang-ulang, supaya ga ada typo atau kesalahan apa-apa di kartunya. Setelah tanda tangan, kami tanya kira-kira kapan kartunya selesai, Ko Beny bilang bulan Juli, kami nego bulan Juni dengan alasan, keluargaku khususnya, mereka semua banyak yang di luar kota, jadi kami perlu waktu yang cukup banyak untuk mendistribusikan kartunya. Oh iya, ada yang ketinggalan, pas desain pertama datang, kami juga tak lupa meminta komentar dari ortu masing-masing. Kalau dari mama, terserah saya, kalau dari calon papa mertua, ada revisi sedikit untuk content-nya. Sisanya, mereka menyerahkan kepada kami berdua. :)

4. Term of Payment
Terakhir saya mau ceritain term of paymentnya. Setelah kami setuju dengan harga kartu, untuk memulai pembuatan kami DP sebesar 25%, lalu setelah draft desain di-acc dan siap untuk naik cetak, kami bayar lagi 25%, nah sisanya baru dilunasi saat pengambilan kartunya. As simple as that. :)

Sekarang kami lagi nunggu kartu yang sedang dicetak nih, doakan ya supaya hasilnya sesuai dengan apa yang kami bayangkan hehehe... Mudah-mudahan bulan Juni sudah selesai semua kartunya, siap-siap bagiin deh. Sambil nunggu kartu jadi, saatnya ngetikin label nama huhuhuhu...

Oh iya, dari tadi cerita terus, udah pada kebayang belum kartuku seperti apa? Nih spoiler depannya aja ya hihihihi... :D



Cover Depan


Sekian update untuk kartu undangan, lanjut item lainnya di posting berikutnya ya.
Salam Caman!










Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.