Praise The Lord, Welcome to The World, Baby Ella...

03.04
Segala puji syukur hanya bagi Tuhan. Berkat dan kasih-Nya yang melimpah tiada pernah habis dalam hidup kami. Tanggal 5 Mei 2016 Pk. 11.12 siang, telah lahir buah hati kami, Emanuella Shelomitha Sehary (Ella) secara normal dengan berat 3185 gram dan panjang 49 cm.

Speechless, bersyukur tiada henti, terkagum-kagum atas keajaiban yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kami.

Postingan ini saya dedikasikan untuk Ella, agar kelak saat ia sudah besar, dia bisa membaca sendiri awal kisah hidupnya. :)

Tepat tanggal 4 Mei, adalah hari terakhir saya bekerja dan esoknya saya memulai cuti melahirkan. Seperti sudah tahu kalau mamanya mulai libur, baby Ella mendesak untuk keluar dengan pecahnya ketuban saya esok harinya, tanggal 5 Mei sekitar pk. 2 pagi. Saat itu saya terbangun karena ingin buang air kecil, tetapi ketika saya duduk di tempat tidur, saya sudah merasakan air merembes dan ketika saya bangun, air ketuban mengalir tanpa bisa ditahan. Langsung saat itu saya bangunkan suami dan dengan setengah sadar, dia mulai merapikan tas yang akan kami bawa ke rumah sakit. Kami menghubungi dr. Berryl, Obgyn yang menghandle saya, dan beliau menyarankan agar kami segera ke rumah sakit.

Kami sampai di rumah sakit sekitar pk. 3 pagi. Sebelumnya, suami sudah menghubungi juga pihak rumah sakit untuk menginfokan saya yang mungkin akan segera melahirkan hari itu. Di depan rumah sakit kami disambut oleh pak satpam, yang mengantar saya ke lift menuju lantai 2 di mana kamar bersalin berada. Lalu saya didampingi oleh seorang bidan yang jaga pagi itu. Suami diminta untuk mengurus administrasi dulu di lantai dasar. Setelah berbaring di salah satu kamar bersalin, air ketuban saya mulai mengalir lagi. Bidan yang mendampingi saya menanyakan beberapa hal dan menghandle saya dengan baik. Saya langsung dipakaikan infus, dicek darah dan diberi antibiotik. Lalu saya menjalani tes Cardiotocography (CTG). Tes CTG adalah tes untuk memantau kesejahteraan janin dengan cara merekam pola denyut jantung dihubungkan dengan gerakan janin atau kontraksi rahim. Caranya dengan menempelkan 2 alat, yaitu alat deteksi denyut janin dan alat deteksi kontraksi selama 10-15 menit. Bila terdeteksi perlambatan denyut jantung janin, bisa menandakan adanya gawat janin akibat fungsi plasenta yang tidak baik dan harus segera diberi pertolongan. (sumber: http://www.ayahbunda.co.id/kehamilan-tips/tips-mengenal-alat-periksa-kehamilan). Saya menjalani 2 kali tes CTG. Tes pertama, kurang bagus hasilnya sepertinya, mungkin si dede masih tidur hehehe... Tapi setelah dipasang infus dan diberi antibiotik, saya mulai merasakan kontraksi yang konstan, sekitar 10 menit sekali yang diiringi dengan rasa mulas. Nah, hasil tes yang kedua jauh lebih baik dan si bidan memberi sinyal positif mudah-mudahn saya bisa melahirkan secara normal. Lalu sayapun dites bukaan. Sebelumnya saya sudah pernah mendengar bahwa tes bukaan adalah salah satu tes yang tidak menyenangkan, and yes saya setuju banget. Awalnya saya cool dong, ah, kalau rileks pasti ga terlalu sakit kan ya. Tapi alangkah kagetnya saat tangan si bidan masuk dan merogoh ke dalam, duh, ga enak banget rasanya, hiks, sampai saya nangis saking sakit dan kagetnya saya kala itu. Dengan tenang si bidan bilang, sudah bukaan 2. Hore!

Saya lupa, bidan atau dr. Berryl langsung yang menginfokan, bahwa kalau sudah pecah ketuban, dalam 12 jam bayi sudah harus lahir. Saya tetap optimis dan menyemangati diri sendiri, bahwa saya bisa melahirkan secara normal.

Tak berapa lama setelah selesai tes CTG, rasa mulas yang saya rasakan makin meningkat sakitnya, dan makin berulang 10 menit sekali. Karena masih dini hari, jelas saya belum sarapan, dan untuk melahirkan apalagi normal, tentu perlu banyak energi. Beruntung, saya bawa sari kurma dari rumah, bidan yang juga menyiapkan teh manis hangat yang langsung saya habiskan, karena saya ga mau kepayahan saat tiba melahirkan nanti.

Sambil nulis ini, saya sambil membayangkan lagi, betapa sakitnya rasa mulas yang saya rasakan kala itu. Mulailah saya meremas-remas tangan sang suami, sampai mencakar saking ingin menghilangkan rasa sakit itu. Tak hanya suami, dua suster yang mendampingi sayapun, saya pegangi tangannya, saya remas-remas, dan mungkin sedikit mencakar juga, tapi ya ampun, sabar banget suster-suster ini. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan perlakuan ibu-ibu yang mau melahirkan seperti saya ini. Salah satu suster yang turut berjasa dalam proses melahirkan, dengan setia dan sabar mengelus-elus bagian atas pantat saya, duh nyaman banget rasanya dielus-elus saat itu. Entah berapa ratus kali, si suster dan suami dengan sabar dan telaten berkata, "ayo atur nafasnya, jangan nangis ya bu, jangan teriak-teriak bu, kasihan si dede di dalam nanti ikut stres juga, kalau ibunya stres..." Begitu dan begitu terus. Kemudian Sayapun kembali dicek dalam, duh kalau nginget lagi, ga enak beut rasanya, hahaha... Suster yang ngecek bilang sudah bukaan 4, setelah itu, saya muntah. Si suami sempat khawatir tapi suster menenangkan kami dengan bilang bahwa muntah saat bukaan adalah hal yang wajar. Perasaan dan fisik sudah campur aduk banget rasanya, nahan rasa mulas, nahan ga boleh ngeden karena bukaan belum lengkap. Nah itu tantangan banget, soalnya rasa mulas, paling enak kalau di-ngedenin. Namun demikian, saya tetap patuh, karena saya ga mau mulut rahim saya bengkak kalau dipaksa ngeden dan kasihan si baby jadi semakin sulit untuk keluar.

Sambil menahan rasa mulas yang datang teratur itu, dr. Berryl datang dan cek bukaan saya dan ternyata sudah masuk bukaan 6. Pak dokter memprediksi si dede akan lahir sekitar pk. 1 siang. Baiklah. Saya tetap semangat dan minta terus teh manis hangat untuk menambah tenaga saya. Memang saat itu, yang saya saya rasakan, si dede terus mendorong ke bawah, mencari jalan lahir, diiringi rasa mulas yang luar biasa. Saya selalu perhatikan jam, dan ajaibnya, rasa mulas itu betul-betul datang teratur, saat mau masuk bukaan 6, rasa mulas itu datang 5 menit sekali. Tuhan memang ajaib.

Oh iya, karena saya terus minum, saya jadi kencing berkali-kali. dan ini salah satu kesulitan yang saya hadapi, karena saya tidak boleh turun dari ranjang, harus kencing di wadah sambil tiduran, yap itu susah banget ternyata. Hahaha... Tapi karena udah gak tahan, saya coba dan untungnya bisa, tapi sambil jongkok di kasur. Hehehe...

Si suster terus menanyakan, ibu sudah merasa pengen BAB kah? Awalnya saya ga paham kenapa si suster menanyakan seperti itu, ternyata, memang betul, menjelang si dede keluar, ya rasanya seperti orang mau poop. Nah, sekitar pk. 11-an, rasa mau poop itu datang, si suster dan kawan-kawannya, mungkin ada sekitar 6 suster dengan sigap mendampingi saya, ngerubutin saya, dan dr. Berryl pun dipanggil, karena saya sudah lengkap bukaan dan siap untuk ngeden ngeluarin si dede. Sang suami dengan setia menunggui sambil tetap dengan sabar bilang atur nafas, ngeden jangan ditutup ya matanya. Dia betul-betul melakukan nasihat yang diterima saat kami ikut senam hamil. Betul-betul bermanfaat dan jadi makin sayang sama si suami.

Akhirnya si dokter ambil posisi dan si suster memberi pengarahan, "kalau ibu merasakan rasa mulas, beri kami kode, dan mulai ambil nafas, lalu ngeden sekuat tenaga." Ok. Saya masih bisa mengikuti arahan si suster, mungkin saya ada 4 atau 5 kali ngeden, tapi si dede kepalanya nongol terus masuk lagi, begitu terus sampai akhirnya si dokter menanyakan sama si suami, "pak, kalau ngeden terakhir ini, si dede belum keluar, saya bantu dengan vakum ya." Si suami yang sudah kalut liat istrinya dan mungkin dia grogi juga, langsung bilang iya, dan betul, si dede tetep di dalam, dan dalam ngeden yang terakhir, si dokter memvakum si dede supaya keluar. Akhirnya suara tangisan si dede membuat saya bisa menghela nafas dengan lega. Rasa cape dicampur bingung itu yang saya rasakan. Masih tak percaya itu momen awal di mana saya menjadi seorang ibu.

Betul kata orang-orang, melahirkan adalah suatu hal yang ajaib, meski untuk melahirkan nyawa menjadi taruhannya, menahan rasa sakit yang menurut saya sangat luar biasa, tapi itu semua terbayarkan saat mendengar tangisan bayi yang keluar dari rahim kita sendiri. Sungguh ajaib, dan tak bosan-bosannya saya mengucap syukur kepada Tuhan untuk anugerah yang begitu luar biasa ini. Akhirnya, selamat datang dede Ella... kehadiranmu tentu akan membuat hari kami menjadi lebih berwarna... Ok, sampai di sini dulu cerita tentang kelahiran dede Ella. Berikutnya, saya akan posting mengenai buku-buku yang saya baca saat hamil dan beberapa tips untuk para mom to be. Semoga bisa membantupara mom to be ya... :D


The first picture of Baby Ella ^^



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.