15. Foto Session Part 1 (PIK)

Postingan ini dibuat setelah 3 bulan pernikahan kami >.<

Meski ga banyak drama dalam persiapan pernikahan kami, khusus foto prewedding yang bikin drama bukanlah kami berdua, melainkan cuaca. Yup... Cuaca... Singkat kata, sehari sebelum foto, Jakarta diguyur hujan tanpa henti, dan puncaknya adalah, rumah yang saya tinggali KEBANJIRAN. T^T
Memang rencana pengen pulang cepet dari kantor, tapi apa daya, alat transportasipun tak mendukung. Ya udah deh pasrah, berdoa dalam hati semoga ga kebanjiran. Tapi harapan hanya tinggal harapan. Saat buka kunci pagar, air sudah masuk ke rumah, ga tinggi kok, mungkin 20cm saja, tapi itu sudah cukup untuk melahap barang-barang yang tak sempat dirapikan, termasuk kasur. Lemes. Pengen nangis, tapi ga akan mengubah apa-apa. Duhhh... Sedih banget...

Cami juga bengong dan kaget but he is the best. Dia betul-betul bantuin bersihin rumah yang udah lebih dari kapal pecah itu. Kami mencoba menyelamatkan barang yang mungkin masih bisa diselamatkan, ngepel, bersihin kamar mandi, seluruh ruangan tanpa kecuali. Cape? Banget! Waktu menunjukkan Pk. 3 pagi saat kami selesai bersih-bersih. Cami bilang, kita ga usah maksain untuk foto prewed, kita reschedule aja. Tapi entah kenapa, saya tetep keukeuh kala itu, mungkin saking excited nampang di kamera, didandanin cantik bak putri, dan si cami pasrah aja dengan sedikit kesal keknya karena calon istrinya keras kepala banget. Padahal udah kebayang, tubuh ini sungguh lelah, mata udah lebih dari mata panda. Tapi tak menyurutkan niat saya untuk tetap jadiin hari itu untuk foto session. Dag dig dug sihhh... Gimana kalau hujan lagi, padahal foto prewed outdoor kami di Pantai Indah Kapuk. Sungguh kala itu, saya merasa sebagai manusia memang hanya bisa berencana, selebihnya harus pasrah pada Tuhan. Saya hanya bisa berdoa, kalau Tuhan ijinkan, saya mohon agar bisa menjalani foto session hari itu.

Setelah bantuin beres-beres rumah, cami pulang ke kosnya untuk istirahat (meski cuma sebentar). Saya langsung tertidur pulas setelah bersihin badan sekenanya. Beberapa jam kemudian, alarm berbunyi, saya pun bersiap-siap untuk berangkat ke Ming Bridal. Untungnya jarak rumah dan Ming deket banget, 15 menitan sampe. Fyi, pagi itu masih hujan sodara-sodara. Saya sudah pasrah kalau prewed outdoor direschedule. Masih berasa cape, saya jadi ga bisa terlalu banyak mikir, boro-boro nangis, sepertinya pasrah itu membuat saya lebih tegar. Hahahaha....

Saya janjian dengan Mba Maya (bagian makeup dan hairdo) jam 8 untuk mulai touch up. Untungnya, semua property prewed disimpan di kos cami, jadi aman ga kebanjiran. Cami datang sekitar Pk. 10 setelah supir mobil yang kami sewa terjebak macet karena pagi itu masih hujan. Kalo cami mah touch up-nya bentar banget, rapiin rambut sama dibedakin doang. Ga sampe 10 menit udah kelar.

Selesai makeup, kami langsung naik ke studio indoor di lantai 3. Untuk sesi pertama, difoto pake gaun putih. Pertamanya deg-degan sih, belum pernah jadi foto model apalagi pake gaun-gaun gitu. Untung suasananya ga garing, Ko Tonny (photographer + owner Ming) dan Mas Asep (choreographer) bisa mencairkan suasana dan terlihat sangat berpengalaman untuk foto prewed. Jadi kami tinggal mengikuti arahan dari mereka.


Konsepnya simple gitu, pake backdrop putih
Selesai foto dengan gaun putih, lanjut foto dengan gaun legendaris Ming yang pasti semua bride to be pengen pake itu gaun. Berhubung warnanya memang sesuai warna tema kami, warna peach, sayapun memilih gaun ini sebagai salah satu gaun yang saya pakai untuk prewed. Mba Maya dengan cekatan mengubah hair do saya, ih jadi manis banget deh penampakan saya waktu itu, (muji diri sendiri).

Ini fotonya udah diedit untuk di album, hehehe...
Oh iya, pas foto dengan gaun putih, di luar masih hujan loh. Tapi pas sebelum mulai foto session berikutnya, langit mulai cerah. Duh, rasanya seneng banget. Berasa keajaiban betul-betul terjadi. Thanks God! Lega banget rasanya...

Selesai foto dengan gaun peach, kami break dulu untuk makan siang, dan diputuskan untuk lanjut dengan prewed outdoor karena cuaca yang mendukung. Serius ga ujan sama sekali... Uhuyyy... Hairdo saya diganti lagi sama Mba Maya untuk mencocokkan dengan gaun merah hitam yang akan saya pakai di PIK.

Perjuangan kami tak terhenti sampe di situ saja, ternyata meski ga hujan, akses ke PIK jadi rada terhambat karena banyak genangan di jalan-jalan yang kami lewati, sempat kami memutar, sampai akhirnya Pak Supir ambil jalan ke daerah gunung Sahari yang meski ada genangan tetap bisa kami lewati.

Sesampainya di PIK kira-kira jam setengah tigaan. Ko Tonny dan team langsung setting semua peralatan. Ga berapa lama kami mulai sesi pemotretan lagi. Oh iya, sekedar saran untuk yang pilih PIK sebagai lokasi prewed, jangan lupa bawa lotion anti nyamuk ya, ahahaha. Saya yang belum pernah ke sana ga tau ternyata banyak nyamuk di spot-spot yang bagus buat foto. Jadi difoto sambil nahan gatel ahahaha, ga papa deh, yang penting kelar sesi foto-fotonya.

One of my favorite photos
Selesai bergaun ria, kami ganti dengan pakaian casual. Yes, couple t-shirt aja biar gampang hihihi... So far, saya puas dengan hasil foto di PIK, karena banyak spot yang bisa dipakai untuk foto, termasuk naik perahu.

Ini udah sore, tapi mataharinya cakep banget
Akhirnya foto session kelar sekitar jam 6-an, berasa cepet banget. Mungkin foto-foto di awal penuh dengan kecemasan (takut hujan ga berhenti), tapi foto-foto di PIK penuh dengan senyum dan keceriaan (lega karena ga turun hujan). Kami kelelahan plus lega, hari itu kami bisa merampungkan dua foto session.

Review Hasil Edit
Sebetulnya kami sangat senang dengan kru foto Ming Bridal dan tibalah saatnya kami dipusingkan untuk memilih 30 foto saja dari seratusan foto. Ahahaha.. Untuk hal ini, saya sih rela-relain aja, dan yang eliminasi si cami tentunya, dia lebih tegaan untuk eliminasi dengan berbekal pengetahuan dia tentang fotografi. Kami betul-betul komit untuk tidak nambah foto lagi, supaya budget kami ga tambah bengkak. Kami bernafas lega setelah hampir 2 jam-an akhirnya kami memutuskan foto-foto mana saja yang akan naik cetak dan diedit.
Proses edit foto memakan waktu yang cukup lama, Mba Feby marketing kami bilang, itu karena kami harus mengantri dengan calon pengantin lainnya yang due date-nya lebih awal dari kami. Okelah, kami percayakan semua pada tim Ming Bridal. Sampai tibalah saatnya kami memberikan komentar untuk hasil edit foto. Untuk template dan layout kami sama sekali tidak masalah, editornya sudah menyusun dengan baik. akan tetapi, jeng jeng jeng… Si cami marah dan kesal karena muka dia jadi putih banget setelah diedit. Beda banget deh sama aslinya. Mungkin si editor punya prinsip wajah yang putih akan disukai oleh semua calon pengantin, tapi sayangnya tidak untuk si cami. Dia lebih memilih agar warna mukanya tetap sama seperti aslinya. Karena hal ini, waktu kami cukup banyak terkuras untuk bolak balik kasih komentar. Kenapa bolak balik? Karena beberapa kali setelah diedit untuk lebih dinaturalkan wajahnya, tetap saja tidak sesuai harapan. Sampai si cami turun tangan untuk edit sendiri dibantu oleh sahabatnya yang juga seorang fotografer.

Fiuh… Kelar edit, cukup puas dengan hasilnya. Kami acc agar foto-foto tersebut bisa dicetak di album. Untuk cetaknya sendiri lumayan memakan waktu lama, 2 minggu sebelum hari H kalau tidak salah, album prewed kami baru jadi. Tapi kami ga terlalu khawatir karena kami memang tidak berencana untuk menaruh album prewed kami di mini gallery, hanya beberapa foto yang sudah dipilih untuk dicetak dan ditaruh pada figura. Akhirnya selesai sudah to do list untuk sesi perfotoan. Eits, tapi masih ada satu cerita lagi untuk prewed kami yang kedua, saya tulis terpisah di postingan berikutnya ya.








Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.