Waktu yang akan menyembuhkan. Ya, aku sembuh

12.10
B
anyak nasihat, artikel bahkan buku-buku yang mengulas secara detail mengenai hubungan laki-laki dan perempuan. Dari mulai bagaimana cara menarik perhatian orang yang kita gebet, bagaimana cara mempertahankan hubungan yang telah dijalin, dan yang pasti tak akan ketinggalan, bagaimana cara kita dapat melupakan mantan dan rasa sakit hati yang kita rasakan.
Saya selalu bersyukur pada Tuhan karena sampai saat ini saya dipertemukan dengan seseorang yang saya anggap dan saya yakini adalah teman hidup saya hari ini sampai selamanya. Di hadapannya saya tidak perlu berpura-pura, cukup tampil apa adanya dan dia tetap mencintai saya dengan sepenuh hatinya. Setiap harinya, kami bisa menjadi teman curhat dan bercerita, lawan debat akan suatu hal, kakak adik yang saling melindungi dan tentu sepasang kekasih yang saling melengkapi.
Kembali pada judul postingan malam ini, pasti rata-rata setiap orang yang pernah disakiti hatinya dan berencana melupakan seseorang yang pernah singgah di hati kita, pernah mendengar nasihat ini. Ya, nasihat bahwa waktu yang akan menyembuhkan.
Saya katakan di awal, bahwa nasihat ini betul terbukti pada kisah cinta yang saya alami sendiri. 
Entah kenapa malam ini saya belum bisa tidur, tangan ini rasanya gatal ingin menulis sesuatu. Mata juga belum bisa terpejam karena masih haus akan pengetahuan dan hiburan dari buku-buku yang baru saya beli. 
Lalu saya tiba-tiba teringat akan buku diary dan kliping yang pernah saya buat. Tidak sampai 5 menit, saya menemukan buku diary itu di dalam lemari. Lalu saya baca setiap halaman tanpa terlewat sedikitpun. Geli dan lucu rasanya membaca sendiri hasil coretan saya di buku diary ini. Sudah lama sekali saya tidak pernah menulis lagi di buku tersebut. Ternyata banyak kisah dan sejarah diri saya yang saya sendiri bahkan lupa tapi tersimpan di buku lusuh ini. Kisah dari mulai saya yang masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, yang sibuk dan deg-degan takut tidak dapat perusahaan untuk tempat magang, sampai catatan-catatan saya untuk sang mantan.
Ada satu tulisan menarik di sana. Di tahun 2011 saya menuliskan, sudah 1 tahun kami tidak bersama. Saya akui saya masih belum bisa melupakan dia dan semua memori tentang hubungan LDR kami. Gila!
Lebay amat, sudah 1 tahun lebih tapi masih "ngarep" sama si mantan yang mungkin sudah tak ingat lagi dengan saya bahkan mungkin lupa, pernah menjalin hubungan spesial ini.
Di minggu-minggu awal kami putus, saya sangat sedih dan masih belum percaya bahwa kenyataannya kami sudah berpisah. Meski kami LDR-an, saya sudah menanamkan dalam hati, bahwa dia adalah orang terakhir yang akan mengisi hati saya. Dia yang akan menjadi teman hidup saya untuk selamanya. Saya akui, saya bangga menjadi pacarnya, dan banyak kesamaan yang kami miliki. Alasan-alasan inilah yang membuat saya sangat amat berharap, kami dapat terus bersama. 
Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Saya sendiri sudah lupa berapa lama kami pacaran, tapi yang pasti, tidak dalam waktu sebentar, saya dapat melupakan, memaafkan, mengikhlaskan dirinya untuk pergi dari kehidupan saya.
Untungnya saya memiliki banyak sahabat yang selalu mendukung saya terutama saat saya terpuruk. Saat saya masih mengemis cintanya, saat saya berharap kami bisa kembali bersama. Banyak nasihat dan dukungan yang saya terima. I really appreciated it guys, thanks for your support.
Di antara dukungan yang sahabat saya berikan, terselip satu nasihat yang terus saya ingat sampai saat ini, "Lit, rasa sayang itu memang tidak mudah untuk dibuang dan dilupakan. Tapi waktu yang akan menyembuhkanmu." 
Awalnya saya sungguh tidak peduli dan tidak menganggap sama sekali nasihat "omong kosong" ini. Memang mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan? Memang mereka tidak tahu bagaimana rasanya berharap dia adalah yang terakhir, saya sudah menyerahkan seluruh cinta dan kepercayaan saya, tapi kami harus putus. Mereka tidak bisa merasakan betapa sedih hati ini, kami harus berpisah dan kenyataan mengatakan bahwa si dia sudah tidak menganggap bahkan dengan lebih cepat melupakan saya.
Ya, saya sangat jengkel dengan nasihat ini. Sangat!
Selama setahun lebih, saya meratapi hubungan yang kandas ini. Saya masih berharap dia akan kembali, tapi waktu terus berlalu. 
Hingga suatu saat tanpa disadari saya sudah betul-betul memaafkan dan melupakan semua yang sudah terjadi.
What?
Tapi kenapa harus selama itu saya baru sembuh? 
Beberapa hal yang mungkin saya kira menjadi alasannya salah satunya adalah, harapan saya yang terlalu besar dan penyerahan cinta saya yang begitu tulus dan utuh. Hal-hal ini yang saya rasa jadi penyebab lamanya waktu yang diperlukan, supaya saya sembuh.
Di samping itu, waktu terus berjalan, dan kesembuhan itu semakin di depan mata. Ya, saat saya bertemu dengan orang baru yang mampu sedikit demi sedikit menyelinap ke dalam hati saya.
Wow!
Tapi betul, saat saya menulis tulisan ini, saya betul-betul merasa sudah sembuh. Saya bahkan menertawakan diri saya sendiri saat membaca isi diary saya yang penuh isak tangis, harapan agar saya bisa kembali bersama si mantan.
Sekali lagi, betul. nasihat waktu yang akan menyembuhkan itu, betul-betul mujarab buat saya. Khasiatnya dipercepat dengan hadirnya sosok baru yang mampu menghangatkan kembali cinta saya yang sekarat dan hampir mati.
Jadi, siapapun yang membaca postingan saya ini, siapapun terutama yang masih kesulitan untuk melupakan si mantan dan kenangan indah itu, percayalah!
Waktu yang akan menyembuhkanmu. Ini aku buktinya.
Saat ini aku sembuh.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.