Waktu yang akan menyembuhkan. Ya, aku sembuh
B
|
anyak nasihat, artikel bahkan buku-buku
yang mengulas secara detail mengenai hubungan laki-laki dan perempuan. Dari
mulai bagaimana cara menarik perhatian orang yang kita gebet, bagaimana cara
mempertahankan hubungan yang telah dijalin, dan yang pasti tak akan
ketinggalan, bagaimana cara kita dapat melupakan mantan dan rasa sakit hati
yang kita rasakan.
Saya selalu
bersyukur pada Tuhan karena sampai saat ini saya dipertemukan dengan seseorang yang saya
anggap dan saya yakini adalah teman hidup saya hari ini sampai selamanya. Di
hadapannya saya tidak perlu berpura-pura, cukup tampil apa adanya dan dia
tetap mencintai saya dengan sepenuh hatinya. Setiap harinya, kami bisa menjadi teman curhat dan
bercerita, lawan debat akan suatu hal, kakak adik yang saling melindungi dan tentu sepasang kekasih yang saling melengkapi.
Kembali pada judul
postingan malam ini, pasti rata-rata setiap orang yang pernah disakiti hatinya
dan berencana melupakan seseorang yang pernah singgah di hati kita, pernah
mendengar nasihat ini. Ya, nasihat bahwa waktu yang akan menyembuhkan.
Saya katakan di awal, bahwa nasihat ini betul terbukti pada kisah cinta yang saya alami sendiri.
Entah kenapa malam
ini saya belum bisa tidur, tangan ini rasanya gatal ingin menulis sesuatu. Mata
juga belum bisa terpejam karena masih haus akan pengetahuan dan hiburan dari
buku-buku yang baru saya beli.
Lalu saya tiba-tiba
teringat akan buku diary dan kliping yang pernah saya buat. Tidak sampai 5
menit, saya menemukan buku diary itu di dalam lemari. Lalu saya baca setiap
halaman tanpa terlewat sedikitpun. Geli dan lucu rasanya membaca sendiri hasil
coretan saya di buku diary ini. Sudah lama sekali saya tidak pernah menulis
lagi di buku tersebut. Ternyata banyak kisah dan sejarah diri saya yang saya
sendiri bahkan lupa tapi tersimpan di buku lusuh ini. Kisah dari mulai saya
yang masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, yang sibuk dan deg-degan takut
tidak dapat perusahaan untuk tempat magang, sampai catatan-catatan saya untuk
sang mantan.
Ada satu tulisan
menarik di sana. Di tahun 2011 saya menuliskan, sudah 1 tahun kami tidak
bersama. Saya akui saya masih belum bisa melupakan dia dan semua memori tentang
hubungan LDR kami. Gila!
Lebay amat, sudah
1 tahun lebih tapi masih "ngarep" sama si mantan yang mungkin sudah
tak ingat lagi dengan saya bahkan mungkin lupa, pernah menjalin hubungan
spesial ini.
Di minggu-minggu
awal kami putus, saya sangat sedih dan masih belum percaya bahwa kenyataannya
kami sudah berpisah. Meski kami LDR-an, saya sudah menanamkan dalam hati, bahwa dia
adalah orang terakhir yang akan mengisi hati saya. Dia yang akan menjadi teman
hidup saya untuk selamanya. Saya akui, saya bangga menjadi pacarnya, dan banyak
kesamaan yang kami miliki. Alasan-alasan inilah yang membuat saya sangat amat
berharap, kami dapat terus bersama.
Tapi ternyata
Tuhan berkehendak lain. Saya sendiri sudah lupa berapa lama kami
pacaran, tapi yang pasti, tidak dalam waktu sebentar, saya dapat melupakan,
memaafkan, mengikhlaskan dirinya untuk pergi dari kehidupan saya.
Untungnya saya
memiliki banyak sahabat yang selalu mendukung saya terutama saat saya terpuruk.
Saat saya masih mengemis cintanya, saat saya berharap kami bisa kembali
bersama. Banyak nasihat dan dukungan yang saya terima. I really appreciated it
guys, thanks for your support.
Di antara dukungan yang sahabat saya berikan, terselip satu nasihat
yang terus saya ingat sampai saat ini, "Lit, rasa sayang itu memang tidak
mudah untuk dibuang dan dilupakan. Tapi waktu yang akan
menyembuhkanmu."
Awalnya saya
sungguh tidak peduli dan tidak menganggap sama sekali nasihat "omong
kosong" ini. Memang mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan? Memang
mereka tidak tahu bagaimana rasanya berharap dia adalah yang terakhir, saya
sudah menyerahkan seluruh cinta dan kepercayaan saya, tapi kami harus putus.
Mereka tidak bisa merasakan betapa sedih hati ini, kami harus berpisah dan
kenyataan mengatakan bahwa si dia sudah tidak menganggap bahkan dengan lebih
cepat melupakan saya.
Ya, saya sangat
jengkel dengan nasihat ini. Sangat!
Selama setahun
lebih, saya meratapi hubungan yang kandas ini. Saya masih berharap dia akan
kembali, tapi waktu terus berlalu.
Hingga suatu saat
tanpa disadari saya sudah betul-betul memaafkan dan melupakan semua yang sudah
terjadi.
What?
Tapi kenapa harus
selama itu saya baru sembuh?
Beberapa hal yang
mungkin saya kira menjadi alasannya salah satunya adalah, harapan saya yang
terlalu besar dan penyerahan cinta saya yang begitu tulus dan utuh. Hal-hal ini
yang saya rasa jadi penyebab lamanya waktu yang diperlukan, supaya saya sembuh.
Di samping itu,
waktu terus berjalan, dan kesembuhan itu semakin di depan mata. Ya, saat saya
bertemu dengan orang baru yang mampu sedikit demi sedikit menyelinap ke
dalam hati saya.
Wow!
Tapi betul, saat
saya menulis tulisan ini, saya betul-betul merasa sudah sembuh. Saya bahkan
menertawakan diri saya sendiri saat membaca isi diary saya yang penuh isak tangis,
harapan agar saya bisa kembali bersama si mantan.
Sekali lagi,
betul. nasihat waktu yang akan menyembuhkan itu, betul-betul mujarab buat saya.
Khasiatnya dipercepat dengan hadirnya sosok baru yang mampu menghangatkan
kembali cinta saya yang sekarat dan hampir mati.
Jadi, siapapun
yang membaca postingan saya ini, siapapun terutama yang masih kesulitan untuk
melupakan si mantan dan kenangan indah itu, percayalah!
Waktu yang akan
menyembuhkanmu. Ini aku buktinya.
Saat ini aku
sembuh.
Tidak ada komentar: